Agresif dan setengah memaksa. Setiap orang yang baru masuk ke kawasan Glodok bagaikan ditodong. Jika biasanya menodong memakai senjata, tapi ini berbeda. Mereka memakai VCD dan DVD bajakan sebagai senjata mereka untuk menodong.
Jika VCD dan DVD bajakan tidak dibeli, wajahnya kembali murung. Tidak jarang mereka pergi dengan umpatan yang cukup kasar. Hal seperti itu memang diperlukan di tempat perdagangan yang lingkungannya cukup keras. Hitung-hitung untuk bertahan dari situasi yang telah tercipta seperti itu.
“Ada nggak?” kata seorang bapak tiba-tiba kepada seorang penjual VCD/DVD eceran di Glodok. Si penjual langsung berubah air mukanya. Yang tadinya murung karena penjualan sangat sepi menjadi lebih sumringah.
“Ada pak. Mau yang seperti apa? Cina, Jepang, Barat atau Indonesia?” kata penjual menawarkan barang dagangannya kepada bapak yang berperawakan tinggi besar dan kulitnya agak hitam.
“Saya mau yang Indonesia. Ada nggak?”
“Yah, pak. Stok yang Indonesia lagi abis. Yang sipit-sipit aja pak. Cakep-cakep kok. Atau mau yang barat pak? Lebih seksi daripada yang Indonesia,”kata penjual. Waktu itu penjual lain pun ikut nimbrung ingin mengetahui apa yang sedang dilakukan teman sekaligus saingannya. Tak henti-hentinya mereka yang baru datang melakukan penawaran kepada bapak itu.
“Ahhhh… saya maunya yang dari Indonesia. Tapi, boleh lihat yang itu nggak?” kata si bapak sambil menunjuk DVD yang bergambarkan perempuan bermata sipit dengan kulit putih langsat. Badannya hampir telanjang. Hanya ada satu kain yang menutupi kemaluannya dan tangan perempuan itu mencoba menutupi bagian dirinya yang lain.
Sepertinya bapak itu tertarik. Lelaki yang berumur kira-kira lebih dari setengah abad ini langsung membeli lima keping DVD sekaligus.
***
Cerita di atas merupakan gambaran kejadian sehari-hari yang terjadi di Glodok, Jakarta Barat. Barang terlarang seperti VCD dan DVD bajakan yang menawarkan film porno dijual bebas di pasaran Glodok. Tidak hanya ratusan, ribuan keping VCD dan DVD porno ditawarkan setiap hari di pusat perbelanjaan elektronik yang pernah berjaya itu.
Pada 2003, penjualan VCD porno memang lebih bebas ketimbang saat ini. Awal tahun 2000 bisa dibilang masa kejayaan bagi para pembajak di Indonesia. Angin reformasi yang berhembus saat itu membuat pembajak merasa mendapatkan “kartu bebas” dari negerinya sendiri. Para pembajak menganggap Indonesia adalah surga untuk mengembangkan sayap dan mengepakkannya ke angkasa.
Saking bebasnya, produksi pembajakan di Indonesia sampai mendapatkan perhatian khsusus dari bangsa lain. Unites States Trade Representative (USTR) menetapkan negara kita priority watch list (PWL) dalam masalah perlindungan hak kekayaan intelektual (HKI). Dengan status ini USTR menilai Indonesia sebagai negara tidak memberi perlindungan yang memadai terhadap HKI dan justru menyalahi prosedural ekonomi global.
Glodok yang pernah sepi akibat kerusuhan Mei 1998 mulai disusupi dengan barang bajakan. Kawasan yang terkenal adalah PInangsia dan Harco Glodok. Penjualan VCD porno di bawah jembatan Harco mungkin yang paling banyak di kawasan itu sekaligus sistem penjualan yang cukup aneh.
Jika biasanya toko buka sekitar pukul 08.00, para pedagang eceran ini baru buka pada pukul 10.00. Tidak hanya satu atau dua pedagang eceran yang menggelar dagangannya pada jam itu, tapi hampir semua pedagang eceran di bawah jembatan Harco buka sekitar pukul 10.00.
“Mereka (para pedagang eceran VCD dan DVD porno) emang bukanya jam segitu. Nggak tahu kenapa. Tapi sepertinya buat menghindari polisi,”kata seorang satpam yang tidak ingin disebutkan namanya di kawasan Harco Glodok lantai dua.
“Yang dijual gambarnya parah. Kenapa sih nggak diringkus polisi seperti itu?” tambahnya kesal melihat kegiatan para pedagang VCD dan DVD porno yang berada tepat di bawah tempat yang ia jaga.
Kekesalan tidak hanya datang dari satpam setempat. Asep, tukang parkir di kawasan Pinangsia dan Harco ini juga merasakan ketidaknyamanan dengan benda-benda haram seperti VCD dan DVD porno.
“Semua tahu kalau yang dijual di sini kebanyakan barang bajakan. Namanya juga orang cari uang untuk makan. Semuanya jadi halal. Tapi, saya kesal banget sama yang jual VCD dan DVD porno. Ngapain sih mereka jualan barang-barang itu? Lalu, kenapa polisi akhir-akhir ini jarang melakukan penggrebekan? Kan berarti ada apa-apanya di balik itu semua,” kata Pak Asep menanggapi tentang VCD dan DVD porno.
Betul juga kata Pak Asep. Aparat kepolisian seperti bungkam masalah VCD dan DVD bajakan ini. Bayangkan saja. Hanya berjarak 10 meter dari pusat grosir VCD dan DVD bajakan Glodok, pos polisi itu malah seperti macan yang tidak bertaring.
Sucipto (bukan nama sebenarnya), salah satu anggota polisi yang berjaga di pos polisi Glodok tersebut mengatakan, mereka akan turun ke lapangan jika ada surat perintah turun dari atasan.
“Kami sih menurut perintah atasan saja. Jika ada surat perintah untuk melakukan penggrebekan, baru kami akan turun ke lapangan. Kalau langsung jalan saja tanpa ada surat perintah, nanti kami ditanya oleh satpamnya. Mereka kan juga sudah berpengalaman jika ada penggrebekan,” ujar Suradal.
Kompromi adalah salah satu jalan yang sering diberikan para aparat kepolisian kepada pedagang VCD dan DVD bajakan di Glodok. Aparat seperti berdiam diri melihat perdagangan VCD dan DVD bajakan ini. Unsur “tahu sama tahu” sering diterapkan antara pedagang dengan aparat. Hal ini diakui oleh Acong (nama samaran) yang bekerja sebagai pegawai toko VCD dan DVD bajakan di sekitar Harco.
“Yah, polisi yang penting ada uang tutup mulut. Jujur deh, bagian polisi lebih banyak daripada bagian kami yang seharusnya mendapatkan gaji lebih besar,” ujar Acong dengan agak kesal.
Polisi sekitar Glodok, masih menurut Acong, mendapatkan bagian yang sangat besar karena demi kelangsungan penjualan. Ada sekitar empat bagian yang diberikan “uang pelicin” itu, yaitu pos polisi yang hanya berjarak sekitar 10 meter dari Harco dan Pinangsia, Polisi Sektor (Polsek), Polisi Resort (Polres), dan yang paling besar jatahnya didapatkan oleh Polda Metro Jaya.
“Jelas bagian Polda lebih banyak. Waktu pergantian Kepala Polda Metro, saya lupa tahunnya kapan, kami (para pedagang) disuruh tutup semua. Dalam sepuluh hari Glodok kosong. Harga DVD bajakan kala itu masih lima ribu rupiah. Ternyata, setelah masuk, harga DVD yang kami jual menjadi enam ribu rupiah. Itu disebabkan dari pusat meminta uang setoran lebih banyak yaitu sekitar dua kali lipat per keping DVD,” kata lelaki yang kira-kira berumur 35 tahun itu sembari kesal.
Jika mendengar pendapat dari aparat kepolisian, yang terlontar adalah sulitnya penggrebekan terjadi di Glodok. Selain jaringan komunikasi yang begitu hebat, Glodok juga penampung tenaga kerja yang cukup banyak. Pusat grosirnya saja terdapat 200 kios lebih di dalamnya. Yang bekerja di sana ribuan orang dan mereka hanyalah rakyat kecil yang sedang mencari makan.
“Kalau kita (kepolisian) ingin menangkap, lebih baik menangkap gembongnya dari pada hanya menghabiskan waktu dengan “ikan teri”. Kasihan, mereka juga cari uang untuk makan. Sama saja seperti kami,” ujar Suradal.
Di Glodok, mata rantai peredaran VCD dan DVD bajakan cukup panjang. Mulai dari pabrik pengganda, kemudian ke tangan distributor. Setelah di tangan distributor atau sering kita sebut dengan agen, mereka akan memanjangkan tangan usahanya kepada pengepul yang kemudian diberikan kepada para kepala kelompok di suatu kawasan. Barulah kepala kelompok tersebut berhubungan dengan para pengecer.
Meski melibatkan banyak orang, tapi untuk membongkar jaringan bukanlah pekerjaan yang mudah. Maklum, setiap orang menutup mulutnya rapat-rapat karena saling menjaga rahasia satu sama lain.
Kepolisian juga harus berurusan dengan kelompok-kelompok yang mengendalikan wilayah Glodok. Misalnya saja di daerah Pinangsia dikuasai oleh kelompok dari daerah Batak. Di bawah jembatan Harco dikuasai oleh kelompok Banten. Lain hal di dalam Harco. Penjual bajakan terutama VCD dan DVD porno dikuasai oleh orang Flores. Ketiga kelompok tersebut jarang berselisih paham namun mereka memang bersaing dalam pencarian pelanggan.
Penjual VCD dan DVD porno di sekitar jembatan Harco memang yang paling diuntungkan dalam pencarian pembeli. Biasanya yang membeli di sana adalah orang-orang bermobil yang malas pergi ke dalam Glodok. Tidak sedikit orang kaya yang mencicipi barang bajakan ini. baru saja buka pada pukul 10.00, pembeli langsung pada menyerbu. Kebanyakan pembelinya adalah pria setengah baya yang rambutnya sudah beruban dan kulitnya sudah agak mengerut.
Selain itu, aparat kepolisian juga harus memegang komitemennya untuk memberantas habis pembajakan di Indonesia. Wakil Direktur Reserse Kriminal Khusus (Reskrimsus) Polda Metro Jaya AKBP Agung Sabar Santoso pernah mengatakan bahwa komitmen itu bukan hanya diberikan kepada pabrik pengganda, tapi juga kepada para penjual. Ia mengatakan itu saat dijumpai di Polda Metro Jaya pada 31 Maret 2005 setelah sehari sebelumnya melakukan penggrebekan besar-besaran di Harco, Glodok, Jakarta Barat.
Berkomitmen memang boleh. Namun, bangsa Indonesia kali ini membutuhkan bukti nyata. Pembajakan yang begitu besar dan tidak bermoral karena mengedarkan juga film-film porno di Indonesia ini cukup membuat bangsa ini merugi. Setiap tahunnya pembajakan telah merugikan negara sekitar 70-80 juta dolar AS.
Bangsa ini membutuhkan orang-orang yang memegang janji dan menepatinya, bukan hanya sekadar tong kosong belaka.
Agresif dan setengah memaksa. Setiap orang yang baru masuk ke kawasan Glodok bagaikan ditodong. Jika biasanya menodong memakai senjata, tapi ini berbeda. Mereka memakai VCD dan DVD bajakan sebagai senjata mereka untuk menodong.
Jika VCD dan DVD bajakan tidak dibeli, wajahnya kembali murung. Tidak jarang mereka pergi dengan umpatan yang cukup kasar. Hal seperti itu memang diperlukan di tempat perdagangan yang lingkungannya cukup keras. Hitung-hitung untuk bertahan dari situasi yang telah tercipta seperti itu.
“Ada nggak?” kata seorang bapak tiba-tiba kepada seorang penjual VCD/DVD eceran di Glodok. Si penjual langsung berubah air mukanya. Yang tadinya murung karena penjualan sangat sepi menjadi lebih sumringah.
“Ada pak. Mau yang seperti apa? Cina, Jepang, Barat atau Indonesia?” kata penjual menawarkan barang dagangannya kepada bapak yang berperawakan tinggi besar dan kulitnya agak hitam.
“Saya mau yang Indonesia. Ada nggak?”
“Yah, pak. Stok yang Indonesia lagi abis. Yang sipit-sipit aja pak. Cakep-cakep kok. Atau mau yang barat pak? Lebih seksi daripada yang Indonesia,”kata penjual. Waktu itu penjual lain pun ikut nimbrung ingin mengetahui apa yang sedang dilakukan teman sekaligus saingannya. Tak henti-hentinya mereka yang baru datang melakukan penawaran kepada bapak itu.
“Ahhhh… saya maunya yang dari Indonesia. Tapi, boleh lihat yang itu nggak?” kata si bapak sambil menunjuk DVD yang bergambarkan perempuan bermata sipit dengan kulit putih langsat. Badannya hampir telanjang. Hanya ada satu kain yang menutupi kemaluannya dan tangan perempuan itu mencoba menutupi bagian dirinya yang lain.
Sepertinya bapak itu tertarik. Lelaki yang berumur kira-kira lebih dari setengah abad ini langsung membeli lima keping DVD sekaligus.
***
Cerita di atas merupakan gambaran kejadian sehari-hari yang terjadi di Glodok, Jakarta Barat. Barang terlarang seperti VCD dan DVD bajakan yang menawarkan film porno dijual bebas di pasaran Glodok. Tidak hanya ratusan, ribuan keping VCD dan DVD porno ditawarkan setiap hari di pusat perbelanjaan elektronik yang pernah berjaya itu.
Pada 2003, penjualan VCD porno memang lebih bebas ketimbang saat ini. Awal tahun 2000 bisa dibilang masa kejayaan bagi para pembajak di Indonesia. Angin reformasi yang berhembus saat itu membuat pembajak merasa mendapatkan “kartu bebas” dari negerinya sendiri. Para pembajak menganggap Indonesia adalah surga untuk mengembangkan sayap dan mengepakkannya ke angkasa.
Saking bebasnya, produksi pembajakan di Indonesia sampai mendapatkan perhatian khsusus dari bangsa lain. Unites States Trade Representative (USTR) menetapkan negara kita priority watch list (PWL) dalam masalah perlindungan hak kekayaan intelektual (HKI). Dengan status ini USTR menilai Indonesia sebagai negara tidak memberi perlindungan yang memadai terhadap HKI dan justru menyalahi prosedural ekonomi global.
Glodok yang pernah sepi akibat kerusuhan Mei 1998 mulai disusupi dengan barang bajakan. Kawasan yang terkenal adalah PInangsia dan Harco Glodok. Penjualan VCD porno di bawah jembatan Harco mungkin yang paling banyak di kawasan itu sekaligus sistem penjualan yang cukup aneh.
Jika biasanya toko buka sekitar pukul 08.00, para pedagang eceran ini baru buka pada pukul 10.00. Tidak hanya satu atau dua pedagang eceran yang menggelar dagangannya pada jam itu, tapi hampir semua pedagang eceran di bawah jembatan Harco buka sekitar pukul 10.00.
“Mereka (para pedagang eceran VCD dan DVD porno) emang bukanya jam segitu. Nggak tahu kenapa. Tapi sepertinya buat menghindari polisi,”kata seorang satpam yang tidak ingin disebutkan namanya di kawasan Harco Glodok lantai dua.
“Yang dijual gambarnya parah. Kenapa sih nggak diringkus polisi seperti itu?” tambahnya kesal melihat kegiatan para pedagang VCD dan DVD porno yang berada tepat di bawah tempat yang ia jaga.
Kekesalan tidak hanya datang dari satpam setempat. Asep, tukang parkir di kawasan Pinangsia dan Harco ini juga merasakan ketidaknyamanan dengan benda-benda haram seperti VCD dan DVD porno.
“Semua tahu kalau yang dijual di sini kebanyakan barang bajakan. Namanya juga orang cari uang untuk makan. Semuanya jadi halal. Tapi, saya kesal banget sama yang jual VCD dan DVD porno. Ngapain sih mereka jualan barang-barang itu? Lalu, kenapa polisi akhir-akhir ini jarang melakukan penggrebekan? Kan berarti ada apa-apanya di balik itu semua,” kata Pak Asep menanggapi tentang VCD dan DVD porno.
Betul juga kata Pak Asep. Aparat kepolisian seperti bungkam masalah VCD dan DVD bajakan ini. Bayangkan saja. Hanya berjarak 10 meter dari pusat grosir VCD dan DVD bajakan Glodok, pos polisi itu malah seperti macan yang tidak bertaring.
Sucipto (bukan nama sebenarnya), salah satu anggota polisi yang berjaga di pos polisi Glodok tersebut mengatakan, mereka akan turun ke lapangan jika ada surat perintah turun dari atasan.
“Kami sih menurut perintah atasan saja. Jika ada surat perintah untuk melakukan penggrebekan, baru kami akan turun ke lapangan. Kalau langsung jalan saja tanpa ada surat perintah, nanti kami ditanya oleh satpamnya. Mereka kan juga sudah berpengalaman jika ada penggrebekan,” ujar Suradal.
Kompromi adalah salah satu jalan yang sering diberikan para aparat kepolisian kepada pedagang VCD dan DVD bajakan di Glodok. Aparat seperti berdiam diri melihat perdagangan VCD dan DVD bajakan ini. Unsur “tahu sama tahu” sering diterapkan antara pedagang dengan aparat. Hal ini diakui oleh Acong (nama samaran) yang bekerja sebagai pegawai toko VCD dan DVD bajakan di sekitar Harco.
“Yah, polisi yang penting ada uang tutup mulut. Jujur deh, bagian polisi lebih banyak daripada bagian kami yang seharusnya mendapatkan gaji lebih besar,” ujar Acong dengan agak kesal.
Polisi sekitar Glodok, masih menurut Acong, mendapatkan bagian yang sangat besar karena demi kelangsungan penjualan. Ada sekitar empat bagian yang diberikan “uang pelicin” itu, yaitu pos polisi yang hanya berjarak sekitar 10 meter dari Harco dan Pinangsia, Polisi Sektor (Polsek), Polisi Resort (Polres), dan yang paling besar jatahnya didapatkan oleh Polda Metro Jaya.
“Jelas bagian Polda lebih banyak. Waktu pergantian Kepala Polda Metro, saya lupa tahunnya kapan, kami (para pedagang) disuruh tutup semua. Dalam sepuluh hari Glodok kosong. Harga DVD bajakan kala itu masih lima ribu rupiah. Ternyata, setelah masuk, harga DVD yang kami jual menjadi enam ribu rupiah. Itu disebabkan dari pusat meminta uang setoran lebih banyak yaitu sekitar dua kali lipat per keping DVD,” kata lelaki yang kira-kira berumur 35 tahun itu sembari kesal.
Jika mendengar pendapat dari aparat kepolisian, yang terlontar adalah sulitnya penggrebekan terjadi di Glodok. Selain jaringan komunikasi yang begitu hebat, Glodok juga penampung tenaga kerja yang cukup banyak. Pusat grosirnya saja terdapat 200 kios lebih di dalamnya. Yang bekerja di sana ribuan orang dan mereka hanyalah rakyat kecil yang sedang mencari makan.
“Kalau kita (kepolisian) ingin menangkap, lebih baik menangkap gembongnya dari pada hanya menghabiskan waktu dengan “ikan teri”. Kasihan, mereka juga cari uang untuk makan. Sama saja seperti kami,” ujar Suradal.
Di Glodok, mata rantai peredaran VCD dan DVD bajakan cukup panjang. Mulai dari pabrik pengganda, kemudian ke tangan distributor. Setelah di tangan distributor atau sering kita sebut dengan agen, mereka akan memanjangkan tangan usahanya kepada pengepul yang kemudian diberikan kepada para kepala kelompok di suatu kawasan. Barulah kepala kelompok tersebut berhubungan dengan para pengecer.
Meski melibatkan banyak orang, tapi untuk membongkar jaringan bukanlah pekerjaan yang mudah. Maklum, setiap orang menutup mulutnya rapat-rapat karena saling menjaga rahasia satu sama lain.
Kepolisian juga harus berurusan dengan kelompok-kelompok yang mengendalikan wilayah Glodok. Misalnya saja di daerah Pinangsia dikuasai oleh kelompok dari daerah Batak. Di bawah jembatan Harco dikuasai oleh kelompok Banten. Lain hal di dalam Harco. Penjual bajakan terutama VCD dan DVD porno dikuasai oleh orang Flores. Ketiga kelompok tersebut jarang berselisih paham namun mereka memang bersaing dalam pencarian pelanggan.
Penjual VCD dan DVD porno di sekitar jembatan Harco memang yang paling diuntungkan dalam pencarian pembeli. Biasanya yang membeli di sana adalah orang-orang bermobil yang malas pergi ke dalam Glodok. Tidak sedikit orang kaya yang mencicipi barang bajakan ini. baru saja buka pada pukul 10.00, pembeli langsung pada menyerbu. Kebanyakan pembelinya adalah pria setengah baya yang rambutnya sudah beruban dan kulitnya sudah agak mengerut.
Selain itu, aparat kepolisian juga harus memegang komitemennya untuk memberantas habis pembajakan di Indonesia. Wakil Direktur Reserse Kriminal Khusus (Reskrimsus) Polda Metro Jaya AKBP Agung Sabar Santoso pernah mengatakan bahwa komitmen itu bukan hanya diberikan kepada pabrik pengganda, tapi juga kepada para penjual. Ia mengatakan itu saat dijumpai di Polda Metro Jaya pada 31 Maret 2005 setelah sehari sebelumnya melakukan penggrebekan besar-besaran di Harco, Glodok, Jakarta Barat.
Berkomitmen memang boleh. Namun, bangsa Indonesia kali ini membutuhkan bukti nyata. Pembajakan yang begitu besar dan tidak bermoral karena mengedarkan juga film-film porno di Indonesia ini cukup membuat bangsa ini merugi. Setiap tahunnya pembajakan telah merugikan negara sekitar 70-80 juta dolar AS.
Bangsa ini membutuhkan orang-orang yang memegang janji dan menepatinya, bukan hanya sekadar tong kosong belaka.
v
