
Indonesia diguyur hujan lumayan lebat pada malam tahun baru. Namun, animo masyarakat untuk mengikuti perayaan tutup tahun dan menyambut tahun yang baru ini tetap saja besar.
Di kota besar seperti Jakarta, kemacetan biasa terjadi pada malam tahun baru. Tidak tahun baru pun, kota yang dikenal dengan “kota metropolitan” ini memang sudah menghadapi kemacetan.
Selain Jakarta, Jawa Timur juga menghadapi kemacetan pada saat hari pergantian tahun 2007 ke 2008. Kemacetan bukan saja diakibatkan karena euporia tahun baru, tetapi Jawa Timur kali ini harus diuji oleh Tuhan di akhir tahun dengan banjir yang menyeruak di beberapa daerah. Contohnya saja Bojonegoro. Hujan yang deras yang menimpa daerah itu dalam beberapa hari ini membuat Bojonegoro terkena banjir yang sangat hebat. Sampai hari ini, banjir belum juga surut di sana.
Posko-posko sudah mulai dibuka. Namun, masih banyak warga yang tidur di emperan jalan karena bingung harus di mana mereka tinggal. Tahun baru 2008 yang seharusnya mereka rayakan dengan suka cita. Kali ini masyarakat Bojonegoro harus menelan pil pahit dari bencana alam yang sebetulnya dibuat dari kecerobohan manusia. Bunyi terompet yang biasanya meramaikan pergantian tahun ini harus terpendam oleh banyaknya air di rumah-rumah yang tenggelam.
Sekolah-sekolah yang seharusnya aktif kembali setelah liburan tahun baru 2008, terpaksa harus tutup karena alat-alat sekolah seperti bangku dan meja sekolah terendam akibat banjir. Entah kapan sekolah itu akan mulai beroperasi kembali.
Bagi Pak Muslim, warga Bojonegoro yang saat ini berada di posko pengungsi, tahun baru kali ini begitu menyedihkan. Selain rumahnya terkena banjir yang cukup hebat, pesta sunatan yang digelar untuk anaknya pun gagal total karena harus berhadapan dengan guyuran hujan serta banjir yang kian hari kian meninggi. Si anak harus puas dengan merayakan sunatan sekaligus tahun baru dengan pengungsi-pengungsi lain dengan badan kedinginan.
1 Januari 2008 bagi sebagian orang mungkin awal untuk mencapai kesuksesan dunia. Namun, bagi para pengungsi akibat bencana banjir, tahun baru merupakan tahun memulai kembali kehidupan dari nol. Mudah-mudahan bencana banjir yang melanda saudara kita di Bojonegoro membuat hati para emimpin negara dan masyarakat lainnya terketuk.
6 komentar:
Bagus...
Pemikiran yg cerdas...
Tapi alangkah baiknya jika diimbangi dgn perbuatan yg berguna bagi kemanusiaan...jika udah imbang keduanya...
I put my salute on you...hehe...
Teruslah menulis...
me myself is uci's bestfriend
just wanna say....
CONGRATULATION DEAR
finally i found you in a proud condition. it means that i proud of you cause you can make some writing and it's so nice and contain of some informations.
actually, i didn't read your writing fully, honey, but when the first time i opened your blog and realized that the writing is yours, hmmmmm how proud i am.
congratulation and keep your best to be a smart journalist.
maaf ya bo', kalo ada yang salah kata-kata gw dalam bahasa inggris, tapi gw dah coba se keren mungkin memuji elo. udah gw buka ya blog nya. tapi gw bener2 salut sama elo
selesailah tugas gw ya. jaga kesehatan ya cay.
gw mau nagajar dulu nih.
duh, ngerepotin aja suruh ngisi2 ginian. hehehehehehehehe
Gw suka sama tema2 yang lu angkat. asik..daripada baca blog2 yang isinya cuma perasaan pribadi..
hebat, cay..
gw salut deh sama lo..
bahas tentang Al Gore,cay. gw suka bgt ma tu orang. seandainya yang dulu kepilih jadi presiden US tuh dia, pasti Amerika jauh lebih baik..
tulis lebih banyak lagi ya..
hehe..sory ga bisa komen dengan kata2 indah..:p
Mengapa kita harus merayakan pergantian tahun?
Mengapa setiap pergantian hari dari 31 Desember ke 1 Januari harus disambut dengan suka cita?
Mengapa?
Kalo gw sendiri sih tidak terlalu menganggap perubahan hari itu sebagai sesuatu yang istimewa...tapi sepertinya masalah ini tidak usah diperdebatkanlah yah...karena bukan ini masalah suka cita tahun baru yang lo bahas dalam tulisan ini.
Sebelum gw baca tulisan lo gw baru aja baca tulisan Arswendo Atmowiloto mengenai “cobaan dari Tuhan”. Menurutnya cobaan Tuhan itu hanya pantas ditujukan untuk mereka-mereka yang melakukan hal-hal yang lurus, tetapi tiba-tiba Tuhan menutup jalan mereka sehingga mereka harus berbelok atau bahkan harus memutar. Nah, kalau mereka-mereka ini telah menjalankan sesuatu yang buruk dan ditambahkan lagi deritanya oleh Tuhan, menurut Arswendo itu bukan cobaan dari Tuhan.
Kita lihat lagi deh! Kata para ahli, iklim yang sekarang ini berubah drastis ada kaitannya dengan perilaku manusia. Manusia tidak lagi begitu menghargai bumi, hampir semua sumber daya yang ada di bumi dirusak oleh manusia. Karena bumi sudah rusak, maka Tuhan marah. “Dihadiahkan”-lah banjir untuk saudara kita di Bojonegoro.
Kalu lo bilang penduduk Bojonegoro itu diuji Tuhan, perlu diperhatikan lagi dah...mungkin penduduk daerah setempat memang sudah melakukan pengrusakkan lingkungan. Kalau memang begitu adanya, sebenarnya mereka tidak diuji Tuhan. Banjir merupakan “buah” dari “benih” pengrusakan lingkungan yang mereka lakukan sendiri.
Tetapi kalau memang masyarakat Bojonegoro tidak pernah melakukan pengrusakan lingkungan. Kita sebagai saudaranya harus “berterima kasih” dan malu. Berterima kasihlah karena saudara kita yang tidak melakukan kesalahan, masih dengan sabar menerima air yang banyak karena ulah kita (yang merusak lingkungan). Malu, sementara saudara kita masih dengan setia menunggu air surut, tetapi kita tetap merusak lingkungan.
Yooo....
Semangat.....
waduh efi ini pintar sekali.
yang dikatakan arswendo oke juga
Posting Komentar