Kamis, 10 Januari 2008

Persija Kalah, Jakmania Ngamuk!

Persija kalah oleh Persipura di daerah sendiri. Dengan angka terakhir 3-2 untuk Persipura menjadi pil pahit buat Persija, terutama bagi para pemuja fanatiknya, Jakmania.

Seusai pertandingan, Jakmania mengamuk mengutarakan perasaannya bahwa mereka tidak terima dengan hasil pertandingan tersebut. Sasaran amarah mereka adalah menghancurkan fasilitas yang ada di Gelora Bung Karno, salah satunya bangku stadion yang mereka duduki. Seakan tidak mau kalah, pendukung Persipura pun ikut mencabut bangku stadion. Terjadilah aksi saling melemparkan bangku.

Bentrokan terjadi. Massa Jakmania yang lebih banyak ketimbang pendukung Persipura membuat mereka berlindung ke tengah lapangan hijau. Polisi pun sulit membendung kemarahan dua kubu tersebut.

Ada-ada saja sikap para penggemar bola ini atau yang sering kita sebut bondo nekat (bonek). Tidak terima dengan kekalahan yang dialami klub jagoannya, mereka malah emosi dan menumpahkan segalanya di tempat kejadian. Yah, yang pasti di tempat pertandingan bola itu bergulir.

Sebetulnya saya bukan penggemar Liga Indonesia. Tapi, aksi mengamuk para bonek ini membuat saya menggelengkan kepala dan prihatin. Olahraga yang seharusnya memegang teguh kata ‘sportif’ terlihat tidak sportif lagi jika para penggemar fanatik ini tidak bisa menahan emosinya.

Bayangkan saja. Satu kali pertandingan (di mana pun itu) terjadi kerusuhan kecil-kecilan dan itu pasti merusak fasilitas yang ada di tempat pertandingan. Lalu, berapa kerugian yang harus diganti untuk memperbaiki fasilitas-fasilitas yang rusak tersebut? Contohnya saja Gelora Bung Karno yang baru saja diperbaiki untuk Piala Asia Juli lalu. Sekarang, bangku-bangku sudah mulai bercopotan karena ulah penonton yang tidak bertanggung jawab. Pasti butuh biaya lagi untuk memperbaiki yang rusak.

Apakah para bonek atau apapun itu namanya pernah memikirkan ‘hal kecil’ seperti ini? Saran saya, jangan jadi penggemar olahraga kalau belum bisa bersifat sportif. Lebih baik menonton saja di depan televisi. Kalau emosi, pecahkan saja televisinya, perkara selesai. Jadi, jangan rusak fasilitas umum, dong!!!

3 komentar:

Anonim mengatakan...

suci liat langsung ke SUGBK (Stadion utama Gelora Bung Karno)?
Harapan saya demikian, bukan comot kiri kanan untuk sebuah tulisan.
Ad beberapa hal yang harus diperhatikan, mengingat anda sebagai seorang penyebar informasi kepada banyak orang. Salah satunya adalah pendalaman informasi.
contohnya, Jakmania adalah sebuah organisasi yang mewadahi suporter/pendukung Persija. Tapi, tidak semua pendukung Persija menjadi anggota Jakmania. Sering disebutkan (khususnya untuk kasus kerusuhan), para petinggi Jkamania (organisasi) mengatakan pelaku kerusuhan bukan anggotanya, mereka menyebut sebagai suporter liar.
Nah,penyebutan Jakmania mengamuk juga kurang tepat bukan? Padahal hal itu mengacu pada seluruh anggotanya. lebih tepat (sebenarnya masih salah)disebut sebagian pendukung Persija atau sekelompok orang yang memakai identitas (kaos, syal, bendera)pendukung Persija.

Terus untuk masalah ketepatan info, tempat kejadiannya. SUGBK itu gak kecil. Bisa disebutkan dengan kerusuhan yg terjadi di dalam stadion itu di tribun sektor berapa atau sisi sebelah mana (kalo Suci liat langsung, semoga)

lalu, sependek yang saya ketahui pendukung Persija dan Persipura sama sekali tak mau disebut 'bonek'. apalgi pendukung Persija dan pendukung Persebaya pemilik julukan bonek, saling bermusuhan. 'Bonek' juga gak ke SUGBK untuk pertandingan itu bukan?

semoga bermanfaat

Anonim mengatakan...

makasi mas Anton.

saya hanya liat di teve. terima kasih atas pemberitahuan tentang jakmania dan yang lainnya.

sangat bermanfaat buat saya. Berguna buat saya untuk dijadikan pelajaran.

Anonim mengatakan...

Semua bentuk fanatisme biasanya memunculkan tindakan vandal, misalnya fanatisme agama, olahraga, ideologi, dst.
Lihat saja; Fron Pembela Islam yang mengamuk merusak fasilitas umum bahkan pribadi demi kebenaran yang mereka yakini, Para pembela kesebelasan sepak bola lokal maupun interlokal yang merusak sarana umum karena kecewa tim kesayangannya kalah, Para tim sukses bupati yang rela melukai sesama manusia, para mereka pembela agama yang membunuh sesama manusia, dst.
Semoga kita bukan tergolong orang fanatik itu.

-ahmad kelewang-