Kamis, 12 Juli 2012

Proyektor Bintang

Saya punya proyektor bintang. Begitulah kira-kira namanya. Jadi alat itu bisa ngeluarin cahaya berbentuk bintang kalo dinyalain di tempat supergelap. Seperti kamar sewaktu mau tidur. Asal jangan pas mati lampu, karena dia harus pake listrik.

Dibeli sejak Juni lalu, alat yang saya sebut proyektor bintang ini baru sempat dirakit 11 Juli lalu. Ada ceritanya kenapa lama sekali merakitnya. Itu karena pacar tak sempat.

Saya pernah coba merakit itu barang setelah membelinya di Plaza Blok M. Sampe lewat 2 pagi, tahapan yang bisa diselesaikan cuma 10 persen dari hasilnya.

Putus asalah saya. Minta bantuan pacar, doi mengiyakan. Ditunggu-tunggu, tak juga kunjung datang. Alasannya banyak: ke luar kota, ke Bandung, sibuk kerja, bla bla bla.

Saking betenya, saya tulislah itu di status BBM supaya diperhatikan sama pacar. Begini bunyinya "proyektor bintang menunggu dirakit".

Satu dua hari setelah status dilayangkan, tak ada pula rencananya mau merakit itu barang. Keciwalah saya dibuatnya. Untuk menghibur, dia bawakan saya oleh-oleh dari kota-kota yang dikunjungi. Itu pun sifatnya masih inden.

Baru minggu ini si pacar ada kerjaan di Jakarta. Dia sempakan waktu kemarin untuk lihat itu barang. Dari pukul 7 malam, proyektor baru rampung dikerjakan pukul 9 lewat. Sampai berkeringat dia kerjakan itu barang. Itu kulitnya yang hitam makin mengkilat saja hitamnya setelah mengerjakan tugas berat itu.

Akhirnya itu proyektor bisa dipakai. Bohlam di dalam proyektor cuma 1 watt, nggak sempat beli bohlam yang cocok buat itu barang.

Semoga proyektor bintang bakal terus benderang sampai waktu yang panjang..

numpang duduk di grand sahid jaya
18.38 malam

Jumat, 11 Januari 2008

Pers Malaysia Kok Tidak Jadi Kontrol Sosial ?

Malaysia memang suka cari gara-gara. Kali ini, menterinya yang buat pernyataan yang tidak menyenangkan. Saya membacanya di majalah Tempo edisi 7-13 Januari 2008. Di rubrik Opini ditulis bahwa Datuk Seri Zainudin, Menteri Penerangan Malaysia saat berkunjung ke Bali pekan lalu, mengomentari media Indonesia yang “terlalu bersemangat” dengan kebebasan “yang diberikan” semenjak jatuhnya Orde Baru. Menteri itu mengecam media di Indonesia karena menyiarkan pendapat pemimpin partai oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim.

Sebagai mahasiswa Jurnalistik, saya kurang terima dengan apa yang si datuk itu sampaikan. “Keliaran” pers di Indonesia memang hampir tidak bisa dirasakan di Malaysia karena pers dikekang dan diatur ketat oleh pemerintah yang berkuasa. Peran utama pers yaitu kontrol sosial hampir tidak pernah dijalankan oleh pers Malaysia. Bahasa kasarnya, pers Malaysia seperti ada di bawah ketiak pemerintah.

Saya memiliki teman asal Malaysia dengan etnis Cina. Dia pernah bercerita tentang negerinya itu. Katanya, Malaysia itu memang negara yang damai. Jarang sekali ada kerusuhan seperti yang sering ditemukan di Indonesia. Tapi, yang kondisinya parah malah ada pada pers Malaysia. Teman saya bilang koran-koran di sana selalu bercerita tentang kebaikan pemerintah. Etnis yang sering disebut pun etnis Melayu karena merekalah yang mayoritas di sana. Pers memang tidak bisa bernapas lega di sana.

Jadi, Datuk Seri Zainudin, berkacalah pada diri sendiri, bahkan kalau perlu berkaca kepada negara tetangga seperti Indonesia. Apakah Anda dan departemen Anda sudah menjalankan tugas layaknya status yang diberikan pada Anda yaitu sebagai Menteri Penerangan Malaysia?

Kamis, 10 Januari 2008

Persija Kalah, Jakmania Ngamuk!

Persija kalah oleh Persipura di daerah sendiri. Dengan angka terakhir 3-2 untuk Persipura menjadi pil pahit buat Persija, terutama bagi para pemuja fanatiknya, Jakmania.

Seusai pertandingan, Jakmania mengamuk mengutarakan perasaannya bahwa mereka tidak terima dengan hasil pertandingan tersebut. Sasaran amarah mereka adalah menghancurkan fasilitas yang ada di Gelora Bung Karno, salah satunya bangku stadion yang mereka duduki. Seakan tidak mau kalah, pendukung Persipura pun ikut mencabut bangku stadion. Terjadilah aksi saling melemparkan bangku.

Bentrokan terjadi. Massa Jakmania yang lebih banyak ketimbang pendukung Persipura membuat mereka berlindung ke tengah lapangan hijau. Polisi pun sulit membendung kemarahan dua kubu tersebut.

Ada-ada saja sikap para penggemar bola ini atau yang sering kita sebut bondo nekat (bonek). Tidak terima dengan kekalahan yang dialami klub jagoannya, mereka malah emosi dan menumpahkan segalanya di tempat kejadian. Yah, yang pasti di tempat pertandingan bola itu bergulir.

Sebetulnya saya bukan penggemar Liga Indonesia. Tapi, aksi mengamuk para bonek ini membuat saya menggelengkan kepala dan prihatin. Olahraga yang seharusnya memegang teguh kata ‘sportif’ terlihat tidak sportif lagi jika para penggemar fanatik ini tidak bisa menahan emosinya.

Bayangkan saja. Satu kali pertandingan (di mana pun itu) terjadi kerusuhan kecil-kecilan dan itu pasti merusak fasilitas yang ada di tempat pertandingan. Lalu, berapa kerugian yang harus diganti untuk memperbaiki fasilitas-fasilitas yang rusak tersebut? Contohnya saja Gelora Bung Karno yang baru saja diperbaiki untuk Piala Asia Juli lalu. Sekarang, bangku-bangku sudah mulai bercopotan karena ulah penonton yang tidak bertanggung jawab. Pasti butuh biaya lagi untuk memperbaiki yang rusak.

Apakah para bonek atau apapun itu namanya pernah memikirkan ‘hal kecil’ seperti ini? Saran saya, jangan jadi penggemar olahraga kalau belum bisa bersifat sportif. Lebih baik menonton saja di depan televisi. Kalau emosi, pecahkan saja televisinya, perkara selesai. Jadi, jangan rusak fasilitas umum, dong!!!

Rabu, 09 Januari 2008

'Nakalnya' Malaysia

Suatu kali saya pernah bertanya dengan narasumber saya tentang Malaysia terkait dengan beberapa budaya Indonesia yang dianggap milik Negeri Jiran tersebut. Pertanyaan saya awali dengan kalimat: mengapa Malaysia bisa berbuat seperti itu dengan Indonesia? Jawabannya singkat. Kata narasumber saya, Malaysia itu memang nakal.

Kata ‘nakal’ memang begitu tepat untuk menggambarkan perbuatan Malaysia terhadap beberapa kesenian di Indonesia. Belum lama ini, lagu Rasa Sayange yang jelas-jelas milik warga Maluku dipakai untuk theme song di salah satu iklan di Malaysia. Pemakaian itu tanpa permisi. Setelah itu, menyusul kasus Reog Ponorogo. Batik dan Angklung pun turut diakui milik Malaysia.

Tanggapan dari warga Indonesia begitu hebat. Rasa kepemilikan bangsa ini seperti langsung masuk ke dalam setiap jiwa. Media massa pun ikut ambil bagian. Beberapa stasiun televisi akhir-akhir ini sering menayangkan tentang pentingnya hak kekayaan intelektual yang sudah diatur oleh undang-undang untuk segera diterapkan.

Tidak ketinggalan juga para artis. Contohnya saja Agnes Monica. Pelantun lagu Tak Ada Logika ini tampil di sebuah iklan produk jamu yang terkenal di Indonesia dengan tema truly Indonesia. Di iklan tersebut diceritakan bahwa lagu Rasa Sayange, reog ponorogo, batik, angklung, serta bentuk kesenian lainnya adalah asli milik bangsa ini, bukan milik bangsa lain.

Menurut Agnes, untuk membela negara perlu otak dan logika. Sudah tidak jamannya memakai bambu runcing atau teriak-teriak penuh emosi.

Ada benarnya apa yang disampaikan Agnes. Namun, apakah nasionalisme itu telah muncul sejak dulu di hati Agnes atau masyarakat Indonesia lainnya? Mungkin untuk hal yang satu ini (nasionalisme), sudah sepantasnya kita berterima kasih kepada Malaysia karena sudah menyadarkan bangsa ini terhadap apa saja yang sudah dimiliki selama ini.

Namun, lagi-lagi pemerintah ambil gerakan lambat menghadapi masalah budaya ini. Jika takut kehilangan aset bangsa, mengapa harus lama menghadapi persoalan seperti ini?

Bagaimana dengan Soeharto?

Mantan orang nomor satu di Indonesia itu sekarang terkapar lemah. Baru beberapa hari dikabarkan keadaan Soeharto membaik, hari ini malah sebaliknya. Kondisi Presiden Kedua Indonesia itu memburuk.

Menurut Ketua Tim Dokter Kepresidenan Mardjo Soebiandono, produksi urine sang jenderal turun. Cairan di paru-paru pun bertambah. Selain itu, ada tanda-tanda pendarahan pada urine dan fesesnya (Koran Tempo, 9 Januari 2008)

Keadaan memburuk Soeharto membuat pemerintah mulai bertanya-tanya: apakah gugatan terhadap Soeharto seharusnya dihapuskan saja? Melihat dari kondisinya, kakek yang berusia 86 tahun ini memang sudah sulit-bahkan tidak mampu-mengikuti persidangan yang prosesnya begitu panjang.

Namun, apakah semua yang telah dilakukannya selama ini bisa dimaafkan begitu saja? Tentu saja tidak. Saya jadi teringat saat Indonesia sedang mengalami krisis ekonomi yang begitu hebat pada 1998. Begitu ia turun dari tampuk kekuasaannya, setiap hal tentang Soeharto mulai terungkap. Salah satunya adalah kekayaan Soeharto yang menyebabkan penguasa Indonesia selama tiga dekade ini menjadi salah satu orang terkaya di dunia. Padahal Indonesia waktu itu sedang mengalami krisis ekonomi yang menyebabkan penderitaan bagi masyarakat.

Praktek Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) juga mulai diterapkan pada saat Soeharto memimpin. Bayangkan saja, setiap perusahaan yang ia bangun dipimpin oleh anaknya sendiri. Begitu pula dengan pemilihan para menteri saat ia menjabat. Sekian tahun menteri di jaman Soeharto tidak pernah berganti hingga murid sekolah dasar (SD) pada saat itu hafal dengan nama dan jabatan mereka.

Memang, selama 32 tahun berkuasa, bukan berarti Soeharto tidak berjasa untuk Indonesia, namun pemerintah seharusnya bisa mengambil langkah tegas untuk menangani masalah yang selalu saja ditunda. Jika boleh saya mengutip dari editorial Koran Tempo, bukankah semua warga negara sama kedudukannya di mata hukum?

Mudah-mudahan kali ini pemerintah, terutama untuk Presiden Indonesia yang saat ini menjabat, dapat mengambil keputusan yang tepat terkait dengan kasus-kasus yang pernah dilakukan oleh jenderal berbintang lima ini serta kroni-kroninya.

Senin, 31 Desember 2007

VCD/DVD Porno, Dilarang namun Dicari


Agresif dan setengah memaksa. Setiap orang yang baru masuk ke kawasan Glodok bagaikan ditodong. Jika biasanya menodong memakai senjata, tapi ini berbeda. Mereka memakai VCD dan DVD bajakan sebagai senjata mereka untuk menodong.

Jika VCD dan DVD bajakan tidak dibeli, wajahnya kembali murung. Tidak jarang mereka pergi dengan umpatan yang cukup kasar. Hal seperti itu memang diperlukan di tempat perdagangan yang lingkungannya cukup keras. Hitung-hitung untuk bertahan dari situasi yang telah tercipta seperti itu.


Ada nggak?” kata seorang bapak tiba-tiba kepada seorang penjual VCD/DVD eceran di Glodok. Si penjual langsung berubah air mukanya. Yang tadinya murung karena penjualan sangat sepi menjadi lebih sumringah.

Ada pak. Mau yang seperti apa? Cina, Jepang, Barat atau Indonesia?” kata penjual menawarkan barang dagangannya kepada bapak yang berperawakan tinggi besar dan kulitnya agak hitam.

Saya mau yang Indonesia. Ada nggak?”

Yah, pak. Stok yang Indonesia lagi abis. Yang sipit-sipit aja pak. Cakep-cakep kok. Atau mau yang barat pak? Lebih seksi daripada yang Indonesia,”kata penjual. Waktu itu penjual lain pun ikut nimbrung ingin mengetahui apa yang sedang dilakukan teman sekaligus saingannya. Tak henti-hentinya mereka yang baru datang melakukan penawaran kepada bapak itu.

Ahhhh… saya maunya yang dari Indonesia. Tapi, boleh lihat yang itu nggak?” kata si bapak sambil menunjuk DVD yang bergambarkan perempuan bermata sipit dengan kulit putih langsat. Badannya hampir telanjang. Hanya ada satu kain yang menutupi kemaluannya dan tangan perempuan itu mencoba menutupi bagian dirinya yang lain.

Sepertinya bapak itu tertarik. Lelaki yang berumur kira-kira lebih dari setengah abad ini langsung membeli lima keping DVD sekaligus.


***

Cerita di atas merupakan gambaran kejadian sehari-hari yang terjadi di Glodok, Jakarta Barat. Barang terlarang seperti VCD dan DVD bajakan yang menawarkan film porno dijual bebas di pasaran Glodok. Tidak hanya ratusan, ribuan keping VCD dan DVD porno ditawarkan setiap hari di pusat perbelanjaan elektronik yang pernah berjaya itu.

Pada 2003, penjualan VCD porno memang lebih bebas ketimbang saat ini. Awal tahun 2000 bisa dibilang masa kejayaan bagi para pembajak di Indonesia. Angin reformasi yang berhembus saat itu membuat pembajak merasa mendapatkan “kartu bebas” dari negerinya sendiri. Para pembajak menganggap Indonesia adalah surga untuk mengembangkan sayap dan mengepakkannya ke angkasa.

Saking bebasnya, produksi pembajakan di Indonesia sampai mendapatkan perhatian khsusus dari bangsa lain. Unites States Trade Representative (USTR) menetapkan negara kita priority watch list (PWL) dalam masalah perlindungan hak kekayaan intelektual (HKI). Dengan status ini USTR menilai Indonesia sebagai negara tidak memberi perlindungan yang memadai terhadap HKI dan justru menyalahi prosedural ekonomi global.

Glodok yang pernah sepi akibat kerusuhan Mei 1998 mulai disusupi dengan barang bajakan. Kawasan yang terkenal adalah PInangsia dan Harco Glodok. Penjualan VCD porno di bawah jembatan Harco mungkin yang paling banyak di kawasan itu sekaligus sistem penjualan yang cukup aneh.

Jika biasanya toko buka sekitar pukul 08.00, para pedagang eceran ini baru buka pada pukul 10.00. Tidak hanya satu atau dua pedagang eceran yang menggelar dagangannya pada jam itu, tapi hampir semua pedagang eceran di bawah jembatan Harco buka sekitar pukul 10.00.

Mereka (para pedagang eceran VCD dan DVD porno) emang bukanya jam segitu. Nggak tahu kenapa. Tapi sepertinya buat menghindari polisi,”kata seorang satpam yang tidak ingin disebutkan namanya di kawasan Harco Glodok lantai dua.

Yang dijual gambarnya parah. Kenapa sih nggak diringkus polisi seperti itu?” tambahnya kesal melihat kegiatan para pedagang VCD dan DVD porno yang berada tepat di bawah tempat yang ia jaga.

Kekesalan tidak hanya datang dari satpam setempat. Asep, tukang parkir di kawasan Pinangsia dan Harco ini juga merasakan ketidaknyamanan dengan benda-benda haram seperti VCD dan DVD porno.

Semua tahu kalau yang dijual di sini kebanyakan barang bajakan. Namanya juga orang cari uang untuk makan. Semuanya jadi halal. Tapi, saya kesal banget sama yang jual VCD dan DVD porno. Ngapain sih mereka jualan barang-barang itu? Lalu, kenapa polisi akhir-akhir ini jarang melakukan penggrebekan? Kan berarti ada apa-apanya di balik itu semua,” kata Pak Asep menanggapi tentang VCD dan DVD porno.

Betul juga kata Pak Asep. Aparat kepolisian seperti bungkam masalah VCD dan DVD bajakan ini. Bayangkan saja. Hanya berjarak 10 meter dari pusat grosir VCD dan DVD bajakan Glodok, pos polisi itu malah seperti macan yang tidak bertaring.

Sucipto (bukan nama sebenarnya), salah satu anggota polisi yang berjaga di pos polisi Glodok tersebut mengatakan, mereka akan turun ke lapangan jika ada surat perintah turun dari atasan.

Kami sih menurut perintah atasan saja. Jika ada surat perintah untuk melakukan penggrebekan, baru kami akan turun ke lapangan. Kalau langsung jalan saja tanpa ada surat perintah, nanti kami ditanya oleh satpamnya. Mereka kan juga sudah berpengalaman jika ada penggrebekan,” ujar Suradal.

Kompromi adalah salah satu jalan yang sering diberikan para aparat kepolisian kepada pedagang VCD dan DVD bajakan di Glodok. Aparat seperti berdiam diri melihat perdagangan VCD dan DVD bajakan ini. Unsur “tahu sama tahu” sering diterapkan antara pedagang dengan aparat. Hal ini diakui oleh Acong (nama samaran) yang bekerja sebagai pegawai toko VCD dan DVD bajakan di sekitar Harco.

Yah, polisi yang penting ada uang tutup mulut. Jujur deh, bagian polisi lebih banyak daripada bagian kami yang seharusnya mendapatkan gaji lebih besar,” ujar Acong dengan agak kesal.

Polisi sekitar Glodok, masih menurut Acong, mendapatkan bagian yang sangat besar karena demi kelangsungan penjualan. Ada sekitar empat bagian yang diberikan “uang pelicin” itu, yaitu pos polisi yang hanya berjarak sekitar 10 meter dari Harco dan Pinangsia, Polisi Sektor (Polsek), Polisi Resort (Polres), dan yang paling besar jatahnya didapatkan oleh Polda Metro Jaya.

Jelas bagian Polda lebih banyak. Waktu pergantian Kepala Polda Metro, saya lupa tahunnya kapan, kami (para pedagang) disuruh tutup semua. Dalam sepuluh hari Glodok kosong. Harga DVD bajakan kala itu masih lima ribu rupiah. Ternyata, setelah masuk, harga DVD yang kami jual menjadi enam ribu rupiah. Itu disebabkan dari pusat meminta uang setoran lebih banyak yaitu sekitar dua kali lipat per keping DVD,” kata lelaki yang kira-kira berumur 35 tahun itu sembari kesal.

Jika mendengar pendapat dari aparat kepolisian, yang terlontar adalah sulitnya penggrebekan terjadi di Glodok. Selain jaringan komunikasi yang begitu hebat, Glodok juga penampung tenaga kerja yang cukup banyak. Pusat grosirnya saja terdapat 200 kios lebih di dalamnya. Yang bekerja di sana ribuan orang dan mereka hanyalah rakyat kecil yang sedang mencari makan.

Kalau kita (kepolisian) ingin menangkap, lebih baik menangkap gembongnya dari pada hanya menghabiskan waktu dengan “ikan teri”. Kasihan, mereka juga cari uang untuk makan. Sama saja seperti kami,” ujar Suradal.

Di Glodok, mata rantai peredaran VCD dan DVD bajakan cukup panjang. Mulai dari pabrik pengganda, kemudian ke tangan distributor. Setelah di tangan distributor atau sering kita sebut dengan agen, mereka akan memanjangkan tangan usahanya kepada pengepul yang kemudian diberikan kepada para kepala kelompok di suatu kawasan. Barulah kepala kelompok tersebut berhubungan dengan para pengecer.

Meski melibatkan banyak orang, tapi untuk membongkar jaringan bukanlah pekerjaan yang mudah. Maklum, setiap orang menutup mulutnya rapat-rapat karena saling menjaga rahasia satu sama lain.

Kepolisian juga harus berurusan dengan kelompok-kelompok yang mengendalikan wilayah Glodok. Misalnya saja di daerah Pinangsia dikuasai oleh kelompok dari daerah Batak. Di bawah jembatan Harco dikuasai oleh kelompok Banten. Lain hal di dalam Harco. Penjual bajakan terutama VCD dan DVD porno dikuasai oleh orang Flores. Ketiga kelompok tersebut jarang berselisih paham namun mereka memang bersaing dalam pencarian pelanggan.

Penjual VCD dan DVD porno di sekitar jembatan Harco memang yang paling diuntungkan dalam pencarian pembeli. Biasanya yang membeli di sana adalah orang-orang bermobil yang malas pergi ke dalam Glodok. Tidak sedikit orang kaya yang mencicipi barang bajakan ini. baru saja buka pada pukul 10.00, pembeli langsung pada menyerbu. Kebanyakan pembelinya adalah pria setengah baya yang rambutnya sudah beruban dan kulitnya sudah agak mengerut.

Selain itu, aparat kepolisian juga harus memegang komitemennya untuk memberantas habis pembajakan di Indonesia. Wakil Direktur Reserse Kriminal Khusus (Reskrimsus) Polda Metro Jaya AKBP Agung Sabar Santoso pernah mengatakan bahwa komitmen itu bukan hanya diberikan kepada pabrik pengganda, tapi juga kepada para penjual. Ia mengatakan itu saat dijumpai di Polda Metro Jaya pada 31 Maret 2005 setelah sehari sebelumnya melakukan penggrebekan besar-besaran di Harco, Glodok, Jakarta Barat.

Berkomitmen memang boleh. Namun, bangsa Indonesia kali ini membutuhkan bukti nyata. Pembajakan yang begitu besar dan tidak bermoral karena mengedarkan juga film-film porno di Indonesia ini cukup membuat bangsa ini merugi. Setiap tahunnya pembajakan telah merugikan negara sekitar 70-80 juta dolar AS.

Bangsa ini membutuhkan orang-orang yang memegang janji dan menepatinya, bukan hanya sekadar tong kosong belaka.

Agresif dan setengah memaksa. Setiap orang yang baru masuk ke kawasan Glodok bagaikan ditodong. Jika biasanya menodong memakai senjata, tapi ini berbeda. Mereka memakai VCD dan DVD bajakan sebagai senjata mereka untuk menodong.

Jika VCD dan DVD bajakan tidak dibeli, wajahnya kembali murung. Tidak jarang mereka pergi dengan umpatan yang cukup kasar. Hal seperti itu memang diperlukan di tempat perdagangan yang lingkungannya cukup keras. Hitung-hitung untuk bertahan dari situasi yang telah tercipta seperti itu.


Ada nggak?” kata seorang bapak tiba-tiba kepada seorang penjual VCD/DVD eceran di Glodok. Si penjual langsung berubah air mukanya. Yang tadinya murung karena penjualan sangat sepi menjadi lebih sumringah.

Ada pak. Mau yang seperti apa? Cina, Jepang, Barat atau Indonesia?” kata penjual menawarkan barang dagangannya kepada bapak yang berperawakan tinggi besar dan kulitnya agak hitam.

Saya mau yang Indonesia. Ada nggak?”

Yah, pak. Stok yang Indonesia lagi abis. Yang sipit-sipit aja pak. Cakep-cakep kok. Atau mau yang barat pak? Lebih seksi daripada yang Indonesia,”kata penjual. Waktu itu penjual lain pun ikut nimbrung ingin mengetahui apa yang sedang dilakukan teman sekaligus saingannya. Tak henti-hentinya mereka yang baru datang melakukan penawaran kepada bapak itu.

Ahhhh… saya maunya yang dari Indonesia. Tapi, boleh lihat yang itu nggak?” kata si bapak sambil menunjuk DVD yang bergambarkan perempuan bermata sipit dengan kulit putih langsat. Badannya hampir telanjang. Hanya ada satu kain yang menutupi kemaluannya dan tangan perempuan itu mencoba menutupi bagian dirinya yang lain.

Sepertinya bapak itu tertarik. Lelaki yang berumur kira-kira lebih dari setengah abad ini langsung membeli lima keping DVD sekaligus.


***

Cerita di atas merupakan gambaran kejadian sehari-hari yang terjadi di Glodok, Jakarta Barat. Barang terlarang seperti VCD dan DVD bajakan yang menawarkan film porno dijual bebas di pasaran Glodok. Tidak hanya ratusan, ribuan keping VCD dan DVD porno ditawarkan setiap hari di pusat perbelanjaan elektronik yang pernah berjaya itu.

Pada 2003, penjualan VCD porno memang lebih bebas ketimbang saat ini. Awal tahun 2000 bisa dibilang masa kejayaan bagi para pembajak di Indonesia. Angin reformasi yang berhembus saat itu membuat pembajak merasa mendapatkan “kartu bebas” dari negerinya sendiri. Para pembajak menganggap Indonesia adalah surga untuk mengembangkan sayap dan mengepakkannya ke angkasa.

Saking bebasnya, produksi pembajakan di Indonesia sampai mendapatkan perhatian khsusus dari bangsa lain. Unites States Trade Representative (USTR) menetapkan negara kita priority watch list (PWL) dalam masalah perlindungan hak kekayaan intelektual (HKI). Dengan status ini USTR menilai Indonesia sebagai negara tidak memberi perlindungan yang memadai terhadap HKI dan justru menyalahi prosedural ekonomi global.

Glodok yang pernah sepi akibat kerusuhan Mei 1998 mulai disusupi dengan barang bajakan. Kawasan yang terkenal adalah PInangsia dan Harco Glodok. Penjualan VCD porno di bawah jembatan Harco mungkin yang paling banyak di kawasan itu sekaligus sistem penjualan yang cukup aneh.

Jika biasanya toko buka sekitar pukul 08.00, para pedagang eceran ini baru buka pada pukul 10.00. Tidak hanya satu atau dua pedagang eceran yang menggelar dagangannya pada jam itu, tapi hampir semua pedagang eceran di bawah jembatan Harco buka sekitar pukul 10.00.

Mereka (para pedagang eceran VCD dan DVD porno) emang bukanya jam segitu. Nggak tahu kenapa. Tapi sepertinya buat menghindari polisi,”kata seorang satpam yang tidak ingin disebutkan namanya di kawasan Harco Glodok lantai dua.

Yang dijual gambarnya parah. Kenapa sih nggak diringkus polisi seperti itu?” tambahnya kesal melihat kegiatan para pedagang VCD dan DVD porno yang berada tepat di bawah tempat yang ia jaga.

Kekesalan tidak hanya datang dari satpam setempat. Asep, tukang parkir di kawasan Pinangsia dan Harco ini juga merasakan ketidaknyamanan dengan benda-benda haram seperti VCD dan DVD porno.

Semua tahu kalau yang dijual di sini kebanyakan barang bajakan. Namanya juga orang cari uang untuk makan. Semuanya jadi halal. Tapi, saya kesal banget sama yang jual VCD dan DVD porno. Ngapain sih mereka jualan barang-barang itu? Lalu, kenapa polisi akhir-akhir ini jarang melakukan penggrebekan? Kan berarti ada apa-apanya di balik itu semua,” kata Pak Asep menanggapi tentang VCD dan DVD porno.

Betul juga kata Pak Asep. Aparat kepolisian seperti bungkam masalah VCD dan DVD bajakan ini. Bayangkan saja. Hanya berjarak 10 meter dari pusat grosir VCD dan DVD bajakan Glodok, pos polisi itu malah seperti macan yang tidak bertaring.

Sucipto (bukan nama sebenarnya), salah satu anggota polisi yang berjaga di pos polisi Glodok tersebut mengatakan, mereka akan turun ke lapangan jika ada surat perintah turun dari atasan.

Kami sih menurut perintah atasan saja. Jika ada surat perintah untuk melakukan penggrebekan, baru kami akan turun ke lapangan. Kalau langsung jalan saja tanpa ada surat perintah, nanti kami ditanya oleh satpamnya. Mereka kan juga sudah berpengalaman jika ada penggrebekan,” ujar Suradal.

Kompromi adalah salah satu jalan yang sering diberikan para aparat kepolisian kepada pedagang VCD dan DVD bajakan di Glodok. Aparat seperti berdiam diri melihat perdagangan VCD dan DVD bajakan ini. Unsur “tahu sama tahu” sering diterapkan antara pedagang dengan aparat. Hal ini diakui oleh Acong (nama samaran) yang bekerja sebagai pegawai toko VCD dan DVD bajakan di sekitar Harco.

Yah, polisi yang penting ada uang tutup mulut. Jujur deh, bagian polisi lebih banyak daripada bagian kami yang seharusnya mendapatkan gaji lebih besar,” ujar Acong dengan agak kesal.

Polisi sekitar Glodok, masih menurut Acong, mendapatkan bagian yang sangat besar karena demi kelangsungan penjualan. Ada sekitar empat bagian yang diberikan “uang pelicin” itu, yaitu pos polisi yang hanya berjarak sekitar 10 meter dari Harco dan Pinangsia, Polisi Sektor (Polsek), Polisi Resort (Polres), dan yang paling besar jatahnya didapatkan oleh Polda Metro Jaya.

Jelas bagian Polda lebih banyak. Waktu pergantian Kepala Polda Metro, saya lupa tahunnya kapan, kami (para pedagang) disuruh tutup semua. Dalam sepuluh hari Glodok kosong. Harga DVD bajakan kala itu masih lima ribu rupiah. Ternyata, setelah masuk, harga DVD yang kami jual menjadi enam ribu rupiah. Itu disebabkan dari pusat meminta uang setoran lebih banyak yaitu sekitar dua kali lipat per keping DVD,” kata lelaki yang kira-kira berumur 35 tahun itu sembari kesal.

Jika mendengar pendapat dari aparat kepolisian, yang terlontar adalah sulitnya penggrebekan terjadi di Glodok. Selain jaringan komunikasi yang begitu hebat, Glodok juga penampung tenaga kerja yang cukup banyak. Pusat grosirnya saja terdapat 200 kios lebih di dalamnya. Yang bekerja di sana ribuan orang dan mereka hanyalah rakyat kecil yang sedang mencari makan.

Kalau kita (kepolisian) ingin menangkap, lebih baik menangkap gembongnya dari pada hanya menghabiskan waktu dengan “ikan teri”. Kasihan, mereka juga cari uang untuk makan. Sama saja seperti kami,” ujar Suradal.

Di Glodok, mata rantai peredaran VCD dan DVD bajakan cukup panjang. Mulai dari pabrik pengganda, kemudian ke tangan distributor. Setelah di tangan distributor atau sering kita sebut dengan agen, mereka akan memanjangkan tangan usahanya kepada pengepul yang kemudian diberikan kepada para kepala kelompok di suatu kawasan. Barulah kepala kelompok tersebut berhubungan dengan para pengecer.

Meski melibatkan banyak orang, tapi untuk membongkar jaringan bukanlah pekerjaan yang mudah. Maklum, setiap orang menutup mulutnya rapat-rapat karena saling menjaga rahasia satu sama lain.

Kepolisian juga harus berurusan dengan kelompok-kelompok yang mengendalikan wilayah Glodok. Misalnya saja di daerah Pinangsia dikuasai oleh kelompok dari daerah Batak. Di bawah jembatan Harco dikuasai oleh kelompok Banten. Lain hal di dalam Harco. Penjual bajakan terutama VCD dan DVD porno dikuasai oleh orang Flores. Ketiga kelompok tersebut jarang berselisih paham namun mereka memang bersaing dalam pencarian pelanggan.

Penjual VCD dan DVD porno di sekitar jembatan Harco memang yang paling diuntungkan dalam pencarian pembeli. Biasanya yang membeli di sana adalah orang-orang bermobil yang malas pergi ke dalam Glodok. Tidak sedikit orang kaya yang mencicipi barang bajakan ini. baru saja buka pada pukul 10.00, pembeli langsung pada menyerbu. Kebanyakan pembelinya adalah pria setengah baya yang rambutnya sudah beruban dan kulitnya sudah agak mengerut.

Selain itu, aparat kepolisian juga harus memegang komitemennya untuk memberantas habis pembajakan di Indonesia. Wakil Direktur Reserse Kriminal Khusus (Reskrimsus) Polda Metro Jaya AKBP Agung Sabar Santoso pernah mengatakan bahwa komitmen itu bukan hanya diberikan kepada pabrik pengganda, tapi juga kepada para penjual. Ia mengatakan itu saat dijumpai di Polda Metro Jaya pada 31 Maret 2005 setelah sehari sebelumnya melakukan penggrebekan besar-besaran di Harco, Glodok, Jakarta Barat.

Berkomitmen memang boleh. Namun, bangsa Indonesia kali ini membutuhkan bukti nyata. Pembajakan yang begitu besar dan tidak bermoral karena mengedarkan juga film-film porno di Indonesia ini cukup membuat bangsa ini merugi. Setiap tahunnya pembajakan telah merugikan negara sekitar 70-80 juta dolar AS.

Bangsa ini membutuhkan orang-orang yang memegang janji dan menepatinya, bukan hanya sekadar tong kosong belaka.

v

Bush Buat Malu Dixie Chicks

We’re ashamed that the President of the United States is from Texas….”

Kalimat itu terucap dari mulut Natalie, personil Dixie Chicks yang juga penyanyi utama di kelompok ini. Setelah menyanyikan lagu Travelin’ Soldier yang menjadi hit no.1 di Amerika Serikat pada waktu itu pada saat Dixie Chicks tampil di Shepherd Bush Empire di London, Natalie sesumbar akan keadaan Amerika Serikat saat itu. Presiden Bush memerintahkan militer untuk melakukan invasi ke Irak. Hal ini membuat grup Dixie Chicks gerah. Perang yang seharusnya tidak terjadi malah dibuat oleh negara yang mengaku sebagai “polisi dunia” tersebut. Menurut Natalie, sebagai presiden ia tidak pantas mengeluarkan pernyataan sikap yang membuat dunia marah. Perang seharusnya tidak terjadi.

Kecaman mulai muncul. Keesokan hari setelah konser, Dixie Chicks mulai menerima imbasnya. Media massa di Amerika Serikat mulai memberitakan reaksi masyarakat pecinta Bush mengenai pernyataan Dixie Chicks. Mereka dicerca, dihina, Travelin’ Soldier yang menjadi hit no.1 di tangga Billboard Amerika Serikat terpaksa menurun drastis. Bagi masyarakat Amerika pada saat itu, mereka sangat menyukai lagu-lagu yang dibawakan oleh band perempuan yang menyanyikan musik country dengan begitu indahnya. Namun, sikap Dixie Chicks seperti sampah yang tidak cinta akan tanah air dengan mencerca presidennya sendiri. banyak juga yang bilang, “Shut up and sing!!!

Bertahun-tahun mereka mencoba memperbaiki citra di mata masyarakat Amerika Serikat. Kejadian yang menimpa mereka membuat konsentrasi mereka untuk membuat album baru pun menjadi lebih fokus. Waktu bersama keluarga pun menjadi lebih banyak ketimbang dulu.

Band yang memulai debutnya pada 1989 ini memang sangat disukai oleh Amerika Serikat karena mereka menyanyikan lagu tradisional Amerika yaitu country dengan aransemen yang masih tradisional. Emily Robinson, personil grup wanita tersebut, memainkan banjo yaitu semacam gitar namun mengeluarkan suara yang begitu khas country.

Invasi Irak telah berjalan selama empat tahun dari tahun 2002. Banyak yang merasa invasi adalah suatu kesalahan besar. Bush sebagai presiden pun mengakui bahwa tentaranya tidak menemukan senjata nuklir yang disimpan oleh Irak. Popularitas Bush menurun drastis, Dixie Chicks pun kembali berjaya. Dixie Chicks seperti mendapatkan semangat baru dari para penggemarnya yang baru.

Dixie Chicks kembali menghibur permusikan Amerika Serikat dengan lagu country. Tak peduli apa yang dikatakan warga pada saat itu, jiwa seni wanita-wanita itu tetap tinggi untuk menghasilkan karya musik yang disukai dan menyentuh orang banyak.

Di Shepherd Bush Empire, mereka siap memulai konser kembali di sana. Dengan lagu, semangat, serta mungkin penggemar baru, Dixie Chicks tampil sangat baik. Media selalu bertanya apa lagi yang akan dikatakan Natalie pada konser kali itu. Natalie yang dijuluki “Big Mouth” oleh beberapa warga Amerika yang marah ini malah mengulang kembali kalimat yang pernah menenggelamkan mereka: “Senang sekali bisa kembali lagi di Shepherd Bush. Kebalikan dari adegan penjahat sebelumnya. Dan selama berminggu-minggu hal yang dikatakan orang adalah apa yang akan aku katakan. Mungkin aku akan mengatakan sesuatu yang baru, just all you know we’re ashamed that the President of the United States is from Texas.

Natalie pun tersenyum. Penonton bersorak menyambut perkataannya yang pernah dia ucapkan beberapa tahun lalu.


Amerika Serikat merupakan negara dengan berbagai macam keangkuhannya. Mungkin kalimat tersebut tepat dijatuhkan kepada pemerintahan yang kali ini dipimpin oleh ditaktor besar abad 21 yaitu George Walker Bush.

Amerika Serikat yang merasa dirinya memegang tampuk kekuasaan politik di dunia ini membuat keputusan yang merugikan banyak pihak terutama bagi para warga Amerika Serikat. Perang Irak yang sama sekali tidak menghasilkan kebajikan apa pun tersebut telah memakan korban tentara begitu banyak. Puluhan ribu tentara Amerika Serikat pulang hanya membawa nama.

Negara yang mengaku liberal ini menunjukkan ketidakliberalannya kepada salah satu warganya, yaitu Dixie Chicks. Bicara bebas mungkin sudah biasa di Negeri Paman Sam itu, tapi jika berbicara hal yang tidak menyenangkan tentang pemerintahan siap-siap saja akan menjalani hukuman dunia seperti yang dialami Dixie Chicks.

Lalu, ke mana kebebasan yang sering dielu-elukan oleh Amerika Serikat? Mungkin liberal tidak benar-benar ada di Amerika Serikat sampai saat ini.

Awal Tahun yang Sedih bagi Bojonegoro


Indonesia diguyur hujan lumayan lebat pada malam tahun baru. Namun, animo masyarakat untuk mengikuti perayaan tutup tahun dan menyambut tahun yang baru ini tetap saja besar.

Di kota besar seperti Jakarta, kemacetan biasa terjadi pada malam tahun baru. Tidak tahun baru pun, kota yang dikenal dengan “kota metropolitan” ini memang sudah menghadapi kemacetan.

Selain Jakarta, Jawa Timur juga menghadapi kemacetan pada saat hari pergantian tahun 2007 ke 2008. Kemacetan bukan saja diakibatkan karena euporia tahun baru, tetapi Jawa Timur kali ini harus diuji oleh Tuhan di akhir tahun dengan banjir yang menyeruak di beberapa daerah. Contohnya saja Bojonegoro. Hujan yang deras yang menimpa daerah itu dalam beberapa hari ini membuat Bojonegoro terkena banjir yang sangat hebat. Sampai hari ini, banjir belum juga surut di sana.

Posko-posko sudah mulai dibuka. Namun, masih banyak warga yang tidur di emperan jalan karena bingung harus di mana mereka tinggal. Tahun baru 2008 yang seharusnya mereka rayakan dengan suka cita. Kali ini masyarakat Bojonegoro harus menelan pil pahit dari bencana alam yang sebetulnya dibuat dari kecerobohan manusia. Bunyi terompet yang biasanya meramaikan pergantian tahun ini harus terpendam oleh banyaknya air di rumah-rumah yang tenggelam.

Sekolah-sekolah yang seharusnya aktif kembali setelah liburan tahun baru 2008, terpaksa harus tutup karena alat-alat sekolah seperti bangku dan meja sekolah terendam akibat banjir. Entah kapan sekolah itu akan mulai beroperasi kembali.

Bagi Pak Muslim, warga Bojonegoro yang saat ini berada di posko pengungsi, tahun baru kali ini begitu menyedihkan. Selain rumahnya terkena banjir yang cukup hebat, pesta sunatan yang digelar untuk anaknya pun gagal total karena harus berhadapan dengan guyuran hujan serta banjir yang kian hari kian meninggi. Si anak harus puas dengan merayakan sunatan sekaligus tahun baru dengan pengungsi-pengungsi lain dengan badan kedinginan.


1 Januari 2008 bagi sebagian orang mungkin awal untuk mencapai kesuksesan dunia. Namun, bagi para pengungsi akibat bencana banjir, tahun baru merupakan tahun memulai kembali kehidupan dari nol. Mudah-mudahan bencana banjir yang melanda saudara kita di Bojonegoro membuat hati para emimpin negara dan masyarakat lainnya terketuk.