Senin, 31 Desember 2007

Bush Buat Malu Dixie Chicks

We’re ashamed that the President of the United States is from Texas….”

Kalimat itu terucap dari mulut Natalie, personil Dixie Chicks yang juga penyanyi utama di kelompok ini. Setelah menyanyikan lagu Travelin’ Soldier yang menjadi hit no.1 di Amerika Serikat pada waktu itu pada saat Dixie Chicks tampil di Shepherd Bush Empire di London, Natalie sesumbar akan keadaan Amerika Serikat saat itu. Presiden Bush memerintahkan militer untuk melakukan invasi ke Irak. Hal ini membuat grup Dixie Chicks gerah. Perang yang seharusnya tidak terjadi malah dibuat oleh negara yang mengaku sebagai “polisi dunia” tersebut. Menurut Natalie, sebagai presiden ia tidak pantas mengeluarkan pernyataan sikap yang membuat dunia marah. Perang seharusnya tidak terjadi.

Kecaman mulai muncul. Keesokan hari setelah konser, Dixie Chicks mulai menerima imbasnya. Media massa di Amerika Serikat mulai memberitakan reaksi masyarakat pecinta Bush mengenai pernyataan Dixie Chicks. Mereka dicerca, dihina, Travelin’ Soldier yang menjadi hit no.1 di tangga Billboard Amerika Serikat terpaksa menurun drastis. Bagi masyarakat Amerika pada saat itu, mereka sangat menyukai lagu-lagu yang dibawakan oleh band perempuan yang menyanyikan musik country dengan begitu indahnya. Namun, sikap Dixie Chicks seperti sampah yang tidak cinta akan tanah air dengan mencerca presidennya sendiri. banyak juga yang bilang, “Shut up and sing!!!

Bertahun-tahun mereka mencoba memperbaiki citra di mata masyarakat Amerika Serikat. Kejadian yang menimpa mereka membuat konsentrasi mereka untuk membuat album baru pun menjadi lebih fokus. Waktu bersama keluarga pun menjadi lebih banyak ketimbang dulu.

Band yang memulai debutnya pada 1989 ini memang sangat disukai oleh Amerika Serikat karena mereka menyanyikan lagu tradisional Amerika yaitu country dengan aransemen yang masih tradisional. Emily Robinson, personil grup wanita tersebut, memainkan banjo yaitu semacam gitar namun mengeluarkan suara yang begitu khas country.

Invasi Irak telah berjalan selama empat tahun dari tahun 2002. Banyak yang merasa invasi adalah suatu kesalahan besar. Bush sebagai presiden pun mengakui bahwa tentaranya tidak menemukan senjata nuklir yang disimpan oleh Irak. Popularitas Bush menurun drastis, Dixie Chicks pun kembali berjaya. Dixie Chicks seperti mendapatkan semangat baru dari para penggemarnya yang baru.

Dixie Chicks kembali menghibur permusikan Amerika Serikat dengan lagu country. Tak peduli apa yang dikatakan warga pada saat itu, jiwa seni wanita-wanita itu tetap tinggi untuk menghasilkan karya musik yang disukai dan menyentuh orang banyak.

Di Shepherd Bush Empire, mereka siap memulai konser kembali di sana. Dengan lagu, semangat, serta mungkin penggemar baru, Dixie Chicks tampil sangat baik. Media selalu bertanya apa lagi yang akan dikatakan Natalie pada konser kali itu. Natalie yang dijuluki “Big Mouth” oleh beberapa warga Amerika yang marah ini malah mengulang kembali kalimat yang pernah menenggelamkan mereka: “Senang sekali bisa kembali lagi di Shepherd Bush. Kebalikan dari adegan penjahat sebelumnya. Dan selama berminggu-minggu hal yang dikatakan orang adalah apa yang akan aku katakan. Mungkin aku akan mengatakan sesuatu yang baru, just all you know we’re ashamed that the President of the United States is from Texas.

Natalie pun tersenyum. Penonton bersorak menyambut perkataannya yang pernah dia ucapkan beberapa tahun lalu.


Amerika Serikat merupakan negara dengan berbagai macam keangkuhannya. Mungkin kalimat tersebut tepat dijatuhkan kepada pemerintahan yang kali ini dipimpin oleh ditaktor besar abad 21 yaitu George Walker Bush.

Amerika Serikat yang merasa dirinya memegang tampuk kekuasaan politik di dunia ini membuat keputusan yang merugikan banyak pihak terutama bagi para warga Amerika Serikat. Perang Irak yang sama sekali tidak menghasilkan kebajikan apa pun tersebut telah memakan korban tentara begitu banyak. Puluhan ribu tentara Amerika Serikat pulang hanya membawa nama.

Negara yang mengaku liberal ini menunjukkan ketidakliberalannya kepada salah satu warganya, yaitu Dixie Chicks. Bicara bebas mungkin sudah biasa di Negeri Paman Sam itu, tapi jika berbicara hal yang tidak menyenangkan tentang pemerintahan siap-siap saja akan menjalani hukuman dunia seperti yang dialami Dixie Chicks.

Lalu, ke mana kebebasan yang sering dielu-elukan oleh Amerika Serikat? Mungkin liberal tidak benar-benar ada di Amerika Serikat sampai saat ini.

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Bush itu emang perlu dibantai tuh..

mukanya yang kaya monyet itu emang sangat menyebalkan. Dia itu orang bodoh yang membodohi masyarakatnya. sayangnya, masyarakat Amerika mau saja dibodohi untuk jadi tentara di Irak yang sama sekali tidak berguna..

Anonim mengatakan...

Gue sendiri kagum sama Dixie Chicks. Mereka itu sudah berkali-kali dapet ancaman pembunuhan, konser yang selalu terancam batal, bahkan salah satu anggotanya pernah 'kecelakaan' kecil misterius sebelum konser, tapi mereka justru terus maju menentang Bush.
Tapi yang gue perhatiin, ada satu anggotanya yang jadi terlalu berani dan malah nantangin padahal dua anggotanya yang lain udah takut setengah mati (soalnya keluarga mereka ikut diancem).
well, I adorer their brave....
hopelly selalu ada orang yang berani mengkritik ketika semua orang di AS sudah menganggap Bush itu orang baek2
Dixie Chick setidaknya udah membuktikan kalau mereka ga termakan omongan pers AS yang sudah kena propaganda pemerintahnnya sendiri. Inget kan dulu New York Times pernah amat sangat mendukung invasi ke Irak, tetapi begitu pendapat global berubah mereka (NYT) juga ikut2 berubah (baru sadar kali ngebela yang salah)
Ci, kalo punya duit beli bukunya
Frank Rich deh, dia wartawan senior NYT atau Washington Post gitu. Judul bukunya The best stories that ever sold (klo ga salah).
Intinya sudah banyak jurnalis AS yang merasa ada yang aneh dengan kebijakan invasi ke Irak. Pondasi dasar alasan Bush (nuklir) tiba-tiba ilang.....