Mantan orang nomor satu di Indonesia itu sekarang terkapar lemah. Baru beberapa hari dikabarkan keadaan Soeharto membaik, hari ini malah sebaliknya. Kondisi Presiden Kedua Indonesia itu memburuk. Menurut Ketua Tim Dokter Kepresidenan Mardjo Soebiandono, produksi urine sang jenderal turun. Cairan di paru-paru pun bertambah. Selain itu, ada tanda-tanda pendarahan pada urine dan fesesnya (Koran Tempo, 9 Januari 2008)
Keadaan memburuk Soeharto membuat pemerintah mulai bertanya-tanya: apakah gugatan terhadap Soeharto seharusnya dihapuskan saja? Melihat dari kondisinya, kakek yang berusia 86 tahun ini memang sudah sulit-bahkan tidak mampu-mengikuti persidangan yang prosesnya begitu panjang.
Namun, apakah semua yang telah dilakukannya selama ini bisa dimaafkan begitu saja? Tentu saja tidak. Saya jadi teringat saat Indonesia sedang mengalami krisis ekonomi yang begitu hebat pada 1998. Begitu ia turun dari tampuk kekuasaannya, setiap hal tentang Soeharto mulai terungkap. Salah satunya adalah kekayaan Soeharto yang menyebabkan penguasa Indonesia selama tiga dekade ini menjadi salah satu orang terkaya di dunia. Padahal Indonesia waktu itu sedang mengalami krisis ekonomi yang menyebabkan penderitaan bagi masyarakat.
Praktek Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) juga mulai diterapkan pada saat Soeharto memimpin. Bayangkan saja, setiap perusahaan yang ia bangun dipimpin oleh anaknya sendiri. Begitu pula dengan pemilihan para menteri saat ia menjabat. Sekian tahun menteri di jaman Soeharto tidak pernah berganti hingga murid sekolah dasar (SD) pada saat itu hafal dengan nama dan jabatan mereka.
Memang, selama 32 tahun berkuasa, bukan berarti Soeharto tidak berjasa untuk Indonesia, namun pemerintah seharusnya bisa mengambil langkah tegas untuk menangani masalah yang selalu saja ditunda. Jika boleh saya mengutip dari editorial Koran Tempo, bukankah semua warga negara sama kedudukannya di mata hukum?
Mudah-mudahan kali ini pemerintah, terutama untuk Presiden Indonesia yang saat ini menjabat, dapat mengambil keputusan yang tepat terkait dengan kasus-kasus yang pernah dilakukan oleh jenderal berbintang lima ini serta kroni-kroninya.
7 komentar:
Kaget! Ketika membaca editorial Kompas tak lama setelah Soeharto rawat inap di Pertamina. Harian yang telah menemani masyarakat Indonesia sejak 1923 ini memaparkan kebijakan redaksinya yang cukup membuat tercengang. Mereka bilang, rakyat Indonesia tidak usah lagi-lagi mengungkit-ungkit masalah yang membelit mantan presiden gaek itu. Tak lain karena, dia juga telah banyak berjasa kepada bangsa ini. Aneh ya... Kompas yang biasanya cukup keras sejak reformasi, kembali melempem lagi seakan mereka masih hidup di zaman Soeharto yang tak segan menutup mulut para jurnalis dengan senjata dan bermain aman. Ada apa nih??
Padahal orang bego pun tahu, Soeharto telah banyak melakukan pelanggaran HAM dan korupsi. Oh karena dia sakit, maka harus dikasihani?? Sepertinya tidak. Lupa ya berapa banyak orang yang telah disakitinya?! Harusnya kasus Soeharto ini tetap diselesaikan. Ini menunjukkan cara negara hukum bekerja. Agak susah memang, kroni Soeharto tetap berkeliaran dimana-mana menjilat dan berbohong. Tapi kalau political will yang dimiliki pemerintah bagus dan tak setengah-setengah, masalah ini pasti akan dapat dipecahkan. Ingat, bukan tak mungkin ulama dihukum karena mencuri beras. Bukan tak mungkin pula, dermawan sakit-sakitan ditahan karena menghina orang lain. Jasa dan sakit Soeharto bukan penghalang dilakukannya proses hukum. Bukan sebuah pembenaran tak ditegakannya keadilan.
Bagi orang-orang yang masih berpikir bahwa Soeharto tak pantas dihakimi karena sesuatu yang dilakukannya di masa lalu, segera bangun deh! Anda tak lagi hidup di zaman Soeharto. Jangan terus terlena dan mengenang zona aman yang dicitrakan Soeharto ketika dia memerintah Indonesia. Banyak orang yang dikorbankan untuk menciptakan zona aman itu. Banyak yang mati! Bahkan kematian seorang Soeharto tak cukup meluruskan kesalahan tersebut...
Soeharto memang terlihat lemah di tempat tidur yang dilengkapi dengan peralatan canggih seperti ventilator. tapi kejahatan yang dia lakukan di masa lalu HARUS diurus secepatnya. kebru basi. jangan menunggu sampai "pemakamannya" kering..
kalau SBY dan teman-teman seperjuangannya mampu untuk tidak merasa "nggak enakan" lagi sama bapak presiden kedua Indonesia ini dan menuntaskan kasus korupsi yang pernah diperbuatnya, saya akan salut kepada SBY dan teman-temannya.
Ayolah, coba buka borok yang paling besar di bangsa ini. Capek hidup berdampingan dengan bangsat-bangsat korupsi..
Setiap keadilan harus diterapkan,,itulah mengapa indonesia merupakan negara yang demokrasi dan berlandaskan hukum,,setiap keringanan tentu saja diperbolehkan mengingat kondisi mantan presiden kita itu sedang terbaring lemah di rumah sakit pertamina, yang menurut team dokter kondisi soeharto sudah sedemikian kritis hingga beberapa organ tidak berfungsi termasuk diantaranya otak beliau (RCTI,21.00)
namun dengan kritisnya kondisi beliau, tidak berarti kita memaafkan begitu saja perbuatan beliau setelah sekian lama ini,,tentu kita sebagai orang yang tidak pernah dijahati dia merasa baik-baik saja untuk memaafkan tetapi bagaimana mereka yang dahulunya pernah dipenjara saat zaman beliau, atau mereka yang pernah keluarganya diculik dan ada gosip telah meninggal?
apakah orang-orang itu mau melupakan dan memaafkan begitu saja??
keadilan harus tetap ditegakan,,meskipun sulit tapi itulah hukum yang berlaku.
jika kaki tidak dapat berjalan,ada tangan yang menulis, jika tangan lumpuh, mulut tetap berbicara, jika mulut terbungkam ada mata yang melihat, jika mata terpejam, ada hati yang membenarkan!!
that's correct words jong.. i agree with you. Gak ada kata untuk "menghapuskan" kejahatan yang pernah dia lakukan di masa lalu.
masih ada anak-anaknya yang harus menanggung hukum perdata untuk beliau jika nanti Tuhan memanggil-Nya. masih ada antek-antek yang juga harus bertanggung jawab mengenai kesalahan di masa lalu. masih banyak orang-orang yang bisa dan harus menanggung perbuatannya presiden kedua Indonesia ini.
Well, mungkin kalaupun Soeharto diadili sekarang..please deh basi banget, kemana aja mereka selama ini...
But, above all of that...
kita musti liat,,,kalau Soeharto sekarat gini pasti banyak orang Indonesia justru yang memaafkan (sebagian malah mendoakan)
menurut gue adili aja, kalaupun perkarannya nanti bebas atau 'dimaafkan'oleh negara ya udah ga pa2
yang penting proses peradilan tidak selalu molor.....
kita musti doain dia sehat...
biar bisa ikut persidangan (hehehe)
oke chi.... lanjutkan semua usaha lue dan jangan berhenti menulis... mungkin nanti ada yg membantu setelah membaca tulisan lue.. setidaknya memberi... suatu pemahaman baru
Posting Komentar